" Karmamy Eva Dhikaras te; Ma Phalesu Kadacana; Ma Karmaphalahetur Bhur; Ma Te Sango 'Stvakarmani" "Jalankan saja kewajibanmu; Jangan mengharap hasil; Jangan biarkan pahala menjadi motif tindakanmu; Demikian pula jangan biarkan dirimu berdiam diri".

9 Okt 2013

MENGENAL PURA/KAHYANGAN 2

PURA JATI JEMBRANA
PURA Jati berada di wilayah Desa Pengambengan, sekitar empat kilometer arah selatan dari Kota Negara. Pura yang memiliki luas sekitar 47 are ini merupakan salah satu Pura Dangkhayangan di Jembrana.
Sesuai namanya, pura ini memiliki keistimewaan pada pohon jati yang berada di dalam areal pura. Pura ini juga erat kaitannya dengan perjalanan Dang Hyang Nirartha di Pulau Bali.
Di bagian utama untuk persembahyangan ini juga terdapat bale banten serta bangunan bale gong, bale piasan, serta gedong busana. Empat pohon jati juga berada di areal pura. Menurut Klian Pengempon, Ketut Astika Jaya, terdapat keistimewaan pohon jati tersebut. Selain tidak bisa dicari bibit jatinya, ranting-ranting pohon yang sudah berumur ratusan tahun itu tidak pernah jatuh menimpa padmasana yang berada di bawahnya. Ranting itu pecah sendiri menjadi debu dan tidak menimpa padmasana.
Di sekitar mata air itu ada empat pohon jati yang saling berdekatan. Bahkan pernah salah satu pohon bengkok dan nyaris menimpa penyeker pura. Para pengempon dulu khawatir pohon itu akan menyundul penyengker, tetapi setelah beberapa bulan pohon itu bisa berdiri tegak dengan sendirinya.


 ''Selain itu, setelah beberapa tahun jarak antara padmasana dengan pohon jati yang dulunya hanya beberapa centimeter, kini semakin menjauh hingga mencapai dua meter. ''Dulu sampai pemangku memiringkan badan kalau lewat, sekarang sudah leluasa,'' terangnya.
Di madya mandala, terdapat bale pesandekan, kori agung dan apit lawang bale kulkul dan dapur. Di nista mandala terdapat wantilan serta tempat parkir yang sekarang cukup luas.
Pura ini juga mendapatkan bantuan dari Bupati Jembrana untuk membangun pagar alas mengelilingi areal pura dan candi bentar. Dalam lima tahun ke depan, pura ini rencananya dipugar di bagian utama mandala karena beberapa bagian pura sudah rapuh.
Selain saat piodalan, pura yang di-empon empat desa pakraman di Kecamatan Negara ini juga ramai pamedek saat purnama. Sebagian besar didominasi remaja dan pelajar yang ingin malukat. Termasuk saat Saraswati tak pernah putus para pamedek tangkil ke pura ini.
Di bagian utama mandala terdapat tujuh bangunan di antaranya padmasana, meru tumpang tiga, pepelik, sri sedana, pengayat Ulun Danu, taksu, gedong pesimpenan, dan pangelurah. Empat desa pakraman yang ngempon pura adalah Desa Pekraman Tegal Badeng Kauh, Tegal Badeng Kangin, Lelateng, dan Puseh Agung (Banjar Tengah).
Pura ini erat kaitannya dengan Dang Hyang Nirartha serta dua Pura Dangkhayangan lain di Jembrana, Pura Perancak dan Mertasari. Pura Jati ini disinggahi beliau setelah tiba di Perancak (Pura Dangkhayangan Perancak), dan singgah ke Desa Mertasari (Pura Amerthasari). Saat itu, wilayah gersang yang konon disebut Awen itu merupakan rawa dan hutan.
Dalam perjalanan itu, beliau sempat beristirahat di sana dan melakukan tapa yoga semedi. Sebelum bersemedi, beliau sempat menancapkan tongkatnya di sebuah gundukan dan ketika dicabut tumbuh pohon jati. Dari salah satu batang pohon jati berlubang terdapat sumber air yang tidak pernah surut. Hingga saat ini, pohon tersebut masih ada di dalam areal pura. Piodolan jatuh pada Coma Pon Wuku Sinta
Sejarah Pura Jati.
BERDASARKAN catatan yang ada, sejarah berdirinya Pura Jati memiliki kaitan dengan Pura Perancak, Pura Gede Amertasari dan Pura Dalem Melanting. Hal ini tertuang dalam konsep Purana yang sedang disusun Samania Tri Dharma Jati. 
Sekitar tahun 1478 Masehi, Danghyang Dwijendra atau yang juga dikenal dengan Danghyang Nirarta atau Pedanda Sakti Wawu Rauh meninggalkan Blambangan menuju Bali menyeberangi Segara Rupek. Beliau datang ke Bali dalam rangka dharmayatra untuk menyebarkan ajaran agama Hindu. 
Dalam perjalanan ini, beliau ditemani istri dan tujuh putra-putrinya yakni Diah Wiraga Sloga, Ida Wiraga Sandi, Ida Lor, Ida Ler, Ida Istri Rahi, Ida Telaga dan Ida Kaniten. Dalam penyeberangan tersebut, Danghyang Nirarta menaiki waluh yang isinya sudah dibuang, sedangkan istri dan putra-putri beliau naik perahu tradisional atau jukung yang bocor. Karena kesucian beliau, perjalanan ini tidak menemui hambatan. Rombongan ini mendarat di pantai Purancak, Jembrana. 
Pada saat itu, kehidupan masyarakat di bawah kekuasaan I Gusti Ngurah Rangsasa di mana kehidupan diselimuti oleh kegelapan (awidya). Kehadiran Danghyang Dwijendra ini kemudian dikaitkan dengan anglurah I Gusti Ngurah Rangsasa dan keberadaan Pura Gede Purancak. 
Dalam usaha menyelamatkan masyarakat Jembrana, Danghyang Dwijendra masuk langsung untuk melakukan pembinaan agama, adat-istiadat dan ajaran kerohanian. Sikap beliau ini bertentangan dengan istri dan putra-putrinya. 
Istri dan putra-putri beliau mengalah, Sri Patni Kaniten bersama putranya Ida Telaga dan Ida Kaniten tinggal dekat sebuah telaga di mana beliau menyebarkan benih-benih padi. Masyarakat Jembrana memberi nama tempat itu Merta Sari dan pura yang didirikan diberi nama Pura Gede Amertasari
Perjalanan Danghyang Dwijendra selanjutnya menuju arah timur. Dalam perjalanan itu, beliau menemukan seekor naga raksasa yang sangat besar dan memenuhi jalan. Danghyang Dwijendra pun masuk ke mulut naga ini dan menemukan bunga teratai. Kejadian aneh pun terjadi, tubuh beliau menjadi hitam legam. Istri dan putra-putri beliau lari tunggang langgang. Setelah semua dikumpulkan, ternyata ada satu yang tidak ditemukan yakni Diah Wiraga Sloga. Ketika Danghyang Dwijendra menjumpai putrinya itu, ternyata putrinya sudah moksah. Di tempat itu lalu dibangun pura dengan nama Pura Dalem Melanting
Perjalanan lalu dilanjutkan dengan menyisir hutan (dari Pegametan menuju Jembrana). Dalam perjalanan itu, beliau beristirahat di bawah sebatang pohon. Tongkat yang beliau bawa ditancapkan di dekat beliau duduk. Di tempat itulah kini berdiri sebuah pura yang dibangun untuk menghormati jasa-jasa Danghyang Dwijendra. Pura ini diberi nama Pura Jati (Sumber : Bali Post)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

VIDIO PERADAH JEMBRANA