" Karmamy Eva Dhikaras te; Ma Phalesu Kadacana; Ma Karmaphalahetur Bhur; Ma Te Sango 'Stvakarmani" "Jalankan saja kewajibanmu; Jangan mengharap hasil; Jangan biarkan pahala menjadi motif tindakanmu; Demikian pula jangan biarkan dirimu berdiam diri".
Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan

26 Mei 2012

DPK JEMBRANA MERINTIS “PAUD HINDU” DI JEMBRANA


Setiap orang tua memiliki tanggung jawab terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak-anaknya, baik secara jasmani maupun rohani. Salah satu cita-cita keluarga Hindu adalah membentuk anak-anak yang suputra, atau anak yang luih, yaitu anak yang berbudi, sehingga kelak akan mampu membebaskan orang tua, keluarga dan masyarakat dari penderitaan.
Untuk mencapai keinginan itu, tentu saja memerlukan proses yang panjang dan tidak sederhana. Proses yang panjang itu idealnya dimulai ketika anak masih usia dini. Menurut para ahli pendidikan, ada tiga komponen pokok yang paling berpengaruh terhadap perkembangan anak, yaitu rumah tangga, sekolah dan lingkungan dimana si anak hidup dan bermasyarakat. Tiga tempat ini harus sehat dan edukatif, maka harapan anak-anak kita  akan menjadi anak yang suputra bukanlah harapan yang muluk-muluk.
Namun pada kenyataannya, mesti kita akui bahwa tidak semua orang tua mampu menciptakan keluarga seperti yang diharapkan. Banyak orang tua dihadapkan dengan berbagai keterbatasan, karena berbagai alasan situasi dan kondisi. Pada masyarakat perkotaan maupun pedesaan sekarang ini, alasan yang paling sering diungkapkan adalah minimnya perhatian karena tuntutan ekonomi (pekerjaan). Sehingga  anak-anak akhirnya “terpaksa” dididik oleh pembantu dan atau mungkin tak terurus . Sebaik-baiknya pembantu ia bukanlah orang yang tepat untuk mendidik anak. Karena itu memang bukan bidangnya. Tanpa mengecilkan arti pembantu, kita bisa mengetahui bagaimana keadaan pembantu secara umum di negeri ini.
Sementara sekolah yang diharapkan mampu menutupi kekurangan dan kelemahan keluarga ternyata juga tak banyak yang sesuai dengan cita-cita pendidikan itu sendiri. Jujur saja, tidak semua sekolah mampu menciptakan suasana edukatif. Adanya intervensi kepentingan kepentingan atas sekolah yang berlatar belakang agama, membuat banyak orang tua yang berbeda keyakinan takut mempercayakan pendidikan anak-anaknya pada sekolah sekolah seperti itu. Banyak orang tua berupaya mencari sekolah yang sesuai dengan latar belakang agamanya. Bagi umat Hindu, mesti diakui bahwa tak banyak sekolah yang berlatar belakang Hindu. Bahkan untuk di Kabupaten Jembrana  yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, jumlah sekolah dengan latar belakang agama Hindu adalah NOL BESAR. Ketiadaan  fasilitas inilah banyak orang tua Hindu dengan terpaksa menyekolahkan menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang berlatar belakang agama berbeda dengan dalih “kualitas pendidikannya lebih baik” (secara akademis) ? sementara pendidikan rohani-nya sementara waktu disepelekan. Inilah  kecolongan kita yang disadari atau tidak akan dapat mempengaruhi rohani anak-anak kita dikemudian hari.
Bagaimana dengan lingkungan? Lingkungan juga telah menjadi salah satu problematika pendidikan, karena lingkungan sekarang berkembang dan berubah dengan  cepat. Banyak orang berpandangan bahwa lingkungan yang homogen seperti di Bali pada umumnya dan Jembrana pada khususnya, relative lebih “aman” bagi perkembangan anak. Sebaliknya anak yang hidup di lingkungan heterogen sering menemui hambatan dalam perkembangan sosialnya karena status minoritas. Pandangan itu tidaklah sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah. Karena anak-anak yang hidup di lingkungan yang homogen maupun lingkungan yang heterogen, sama-sama  beresiko bila lingkungan ini tidak sehat dan edukatif.
Berlatar belakang permasalahan tersebut diatas, kami Pemudah Hindu di Kabupaten Jembrana yang tergabung dalam Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah Indonesia) bermodalkan semangat kepedulian dan kesadaran akan masa depan ajaran Sanathana Dharma (Hindu) mencoba menjalin sinergi dengan komponen Hindu di Jembrana untuk bersama-sama merintis sebuah lembaga pendidikan berbasiskan Hindu berupa PAUD Hindu yang nantinya diharapkan sebagai embrio untuk lahirnya lembaga-lembaga pendidikan lainnya di Tingkat SD, SMP dan SMA bahkah Perguruan Tinggi yang berbasis Hindu dengan kwalitas yang mampu bersaing dengan lembaga pendidikan lainnya di Jembrana dan di Bali bahkan di Nusantara yang tercinta ini.
Untuk mewujudkan mimpi tersebut DPK Jembrana Peradah Indonesia telah membentuk Yayasan yang akan membidani lahirnya lembaga-lembaga pendidikan dimaksud dengan nama Yayasan Peradah Jembrana. Tugas pertama Yayasan ini adalah membidani kelahiran PAUD. PAUD Canang Sari disepakati sebagai identitas PAUD dengan pertimbangan mudah diingat, bernuansa Hindu, identik dengan persembahan tulus iklas dan paling sederhana kehadapan Hyang Widhi.   Lokasi PAUD yaitu disebelah Timur Pura Jagatnatha Jembrana yang merupakan  Aset Pemkab Jembrana dengan status Hak Pakai bersama-sama dengan Sekretariat PHDI Kabupaten Jembrana.  Untuk local belajarnya PAUD Canang Sari, kami mengadakan renovasi bangunan gudang dan mempersiapkan sarana bermain anak-anak. Kami menargetkan ditahun ajaran baru 2012/2013 PAUD Canang Sari sudah bisa jalan. Dengan segala keterbatasan yang ada pada kami di Peradah Jembrana, kami tetap optimis cita-cita kami bisa terwujud. Optimisme kami didasari pertimbangan bahwa kami Peradah Jembrana tidaklah sendirian. Hindu yang mayoritas di Jembrana dan di Bali pada umumnya merupakan potensi yang perlu dikelola dengan baik untuk ke-ajegan Hindu dimasa mendatang.  Oleh karena itu lewat kesempatan ini kami ingin mengajak umat se-Dharma untuk ber-Sinergi   mensukseskan terwujudnya PAUD Hindu di Jembrana.  Kami Yayasan Peradah Jembrana siap mengelola partisipasi umat/punia umat lewat  Rekening di BRI  an. Yayasan Peradah Jembrana  No 3482-01-018523-53-0.
Partisifasi umat sangat kami harapkan untuk terwujudnya PAUD HIINDU pertama    di Kabupaten Jembrana.
Om Awignam Astu Namo Sidhiam………………

25 Des 2011

PERKUAT KELEMBAGAAN, PERADAH JEMBRANA TURUN GUNUNG

Jembrana. Kepengurusan Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) Jembrana Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah) Indonesia, dibawah kepemimpinan I Komang Dhiatmika, perlahan tapi pasti terus melakukan langkah-langkah progresif untuk membangkitkan semangat dan idealisme generasi muda khususnya dalam beragama Hindu. Untuk memperkuat kelembagaan DPK Jembrana, Pimpinan DPK Jembrana Peradah Indonesia Rabu (21/12) turun gunung menemui tokoh-tokoh muda yang ada di kecamatan-kecamatan.
Ditemui sebelum menuju Kecamatan Pekutatan, Ketua DPK Jembrana Peradah Indonesia Komang Dhiatmika mengungkapkan, turunnya Pimpinan Peradah Jembrana ke tiap kecamatan intinya dalam upaya pembentukan komisariat Peradah di kecamatan sebagai wadah untuk mensinergikan visi dan misi Peradah kedepan. Namun, lanjut Dhiatmika terlebih dulu perlu disosialisasikan dulu tentang Peradah itu sendiri, pasalnya mungkin saja generasi muda yang ada di kecamatan belum memahami apa itu Peradah. “ Kalau sudah paham akan lebih mudah dalam membentuk komisariat “ ujar Dhiatmika.
Kecamatan pertama yang menjadi sasarannya adalah Pekutatan, yang merupakan wilayah kecamatan paling timur di Kabupaten Jembrana. Dengan dukungan Camat Pekutatan I Made Budhiarta, Pimpinan DPK Jembrana langsung menyapa sejumlah tokoh generasi muda Hindu yang notabene sebagai Ketua Sekaa Teruna di Banjar-banjar seluruh Pekutatan. Pertemuan yang dibuka Camat Budhiarta tersebut mengajak para generasi muda untuk lebih memantapkan perannya dalam menjaga dan mengembangkan nilai-nilai Agama Hindu. “ Mungkin adik-adik ada yang belum tahu dan tidak pernah mendengar Peradah, untuk itu saya harap adik-adik dapat mendengarkan dengan baik hal-hal yang nanti disampaikan oleh pengurus Peradah Jembrana “ buka Budhiarta.
Dalam sosialisasinya tersebut Dhiatmika menceritakan secara gamblang mengenai sejarah keberadaan Peradah. Menurutnya, berdirinya Peradah di Indonesia melalui proses yang cukup panjang dan penuh tantangan. Niat baik tokoh-tokoh muda Hindu saat itu untuk menyatukan generasi muda dan menyalurkan aspirasi maupun pengabdian kepada agama akhirnya menemukan jalan baik dengan terbentuknya Peradah di tingkat pusat yang kemudian diestafetkan ke bawah, baik provinsi hingga kabupaten. “ Jadi generasi kita yang sekarang sudah sepatutnya meneruskan perjuangan pendahulu kita untuk mengabdi kepada agama “ kata Dhiatmika. Pimpinan Peradah Jembrana lainnya juga memberikan motivasi kepada generasi muda Hindu di Pekutatan. Bahkan Penasehat DPK Jembrana Peradah Indonesia I Gede Parwata juga memberikan penjelasan mengenai peran dan fungsi Peradah. Sejumlah Pimpinan DPK Jembrana Peradah Indonesia yang turut sebagai motivator diantaranya. Wakil Ketua Bidang Agama dan Kebudayaan Ida Bagus Rimbawan dan Wakil Ketua Bidang Infokom Ida Bagus Surya Putra.
Generasi muda Hindu Pekutatan, sangat antusias mendengarkan sosialisasi Peradah. Merekapun kompak menyatakan kesanggupannya untuk membentuk komisariat Peradah di Kecamatan Pekutatan. Ketua Sekaa Teruna Giri Santika Banjar Pengeragoan Dauh Tukad I Wayan Warta mengungkapkan, dirinya memang pernah mendengar Peradah dari saudaranya yang menetap Kalimantan, itupun masih samar-samar. Dengan disosialisasikannya Peradah di Pekutatan, ia pun lebij meyakini adanya Peradah. “ Kami siap ngayah untuk Hindu bersama Peradah “ ungkap Warta. Ia pun mengusulkan agar Peradah Jembrana melakukan hubungan yang baik dengan Bendesa Pekraman pasalnya posisi Sekaa Teruna berada di bawah kendali Bendesa Pekraman. (gs)

13 Des 2011

GENERASI MUDA HINDU HARUS MILITAN

Generasi muda merupakan tulang punggung dari suatu bangsa dan juga dalam semua hal. Generasi Muda adalah generasi penerus yang akan melanjutkan sejarah yang telah diukir oleh para pendahulunya. Untuk mampu melanjutkan perjuangan yang telah terlebih dulu dirintis oleh para pendahulu kearah yang lebih baik serta mampu mempertahankan peradaban, nilai-nilai ideology,budaya, adat istiadat serta agama agar tetap bertahan dan mampu berkembang mengikuti perkembangan jaman diperlukan generasi muda yang memiliki karakter kebangsaan yang kuat serta berkualitas, baik secara competence (pengetahuan) dan juga performance (aplikasi).
Begitu pula halnya dengan generasi mudah Hindu. Generasi Muda Hindu sudah saatnya menjadi generasi muda yang tak hanya unggul di bidang SDM baik secara competence dan performance. Tapi  juga harus memiliki karakter yang kuat. Baik dalam hal kebangsaan maupun agama. Generasi muda Hindu harus kuat dengan prinsip agama yang dibawanya. Sehingga generasi muda Hindu yang militant sangat diharapkan.  Militant tidak selalu berarti negative atau anarkis. Namun militant disini berarti kuat pada prinsip yang dibawa, kuat pada ajaran-ajaran Hindu yang diyakini serta mampu mempertahankannya dalam kondisi apapun.
Militant  dalam konteks ini berarti mampu membawa ajaran Hindu dalam kondisi dan situasi apapun dan membuatnya se-fleksibel mungkin dimanapun tempatnya serta mampu mempertahankan eksistensinya dalam kehidupan sehari-hari. Militant dalam hal ini mengarah pada keyakinan yang kuat pada prinsip ajaran agama Hindu yang telah diyakini. Militant terhadap agama yang kita yakini akan melahirkan rasa peduli terhadap ajaran agama yang  kita miliki sehingga generasi muda Hindu akan kuat baik secara competence dan performance. Kuat secara competence berarti generasi muda Hindu faham tentang ajaran agamanya secara teori dan pengetahuan, sedangkan performance berarti generasi muda Hindu mampu mengaplikasikan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu media yang mampu menumbuh kembangkan karakter yang baik pada generasi muda Hindu ialah melalui Organisasi keagamaan seperti Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah Indonesia), KMHDI (Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia). Organisasi keagamaan yang berbasis Hindu sudah semestinya mendapat perhatian khusus dari pihak yang berwenang, seperti PHDI. Organisasi yang seperti inilah yang nantinya akan menjadi basis kuat untuk menjaga eksistensi Umat Hindu baik di tingkat local maupun pusat. Dengan wadah ini generasi muda Hindu akan memiliki posisi yang lebih kuat serta mempunyai wadah untuk menyampaikan aspirasinya. Generasi muda Hindu khususnya pelajar dan mahasiswa sudah sewajarnya untuk pernah mengikuti organisasi keagamaan. Karena dengan bantuan wadah organisasi jumlah kader muda Hindu yang berkualitas progresif yang berjiwa militant mampu terbentuk.

Oleh : I Gede Widya Suputra.

4 Nov 2011

Sidak Minuman Beralkohol KANTOR MILIK DINAS PARIWISATA JADI GUDANG MIRAS

Harian Bali Post (2/11) hal. 13 memuat berita dengan judul sebagaimana judul tulisan ini. Sepintas kelihatannya seperti biasa saja. Namun kalau dibaca keseluruhan berita tersebut, sesungguhnya ada sesuatu yang sangat menarik untuk mendapat perhatian kita bersama. Apaan Tuh……. ?
“Terungkapnya sebuah Kantor Milik Dinas Dikporaparbud (Pariwisata) yang berlokasi di Kawasan Wisata Delodbrawah menjadi Gudang Miras adalah merupakan hasil sidak Tim Pengawasan Mikol dari Dinas Perindagkop Kabupaten Jembrana di kawasan wisata pantai tersebut. Kantor yang semestinya berfungsi sebagai pusat informasi pariwisata ternyata beralih fungsi sebagai gudang miras.  Buku-buku tentang informasi pariwisata yang semestinya ada disana ternyata digantikan buku-buku yang berisi   catatan pembelian bir yang distok ke kafe-kafe di sekitar Delodbrawah”.
Point yang menarik dari semua ini adalah kantor yang beralih fungsi menjadi gudang miras dijaga oleh Pecalang Desa Adat Delodbrawah. Itu berarti ada peran Desa Pakraman didalam pemanfaatan Gedung Kantor tersebut untuk menyimpan miras dan mengatur distribusi miras tersebut ke kafe-kafe dikawasan wisata pantai tersebut.
Ini mungkin salah satu kasus yang mencuat kepermukaan dimana telah terjadi penyimpangan fungsi Desa Pakraman. Kami katakan  salah satu kasus,  karena tidak tertutup kemungkinan juga terjadi di Desa-Desa Pakraman lainnya yang mempunyai fotensi pariwisata seperti Desa Pakraman Delodbrawah. Konsep Desa Pekraman yang merupakan warisan dari Mpu Kuturan adalah dibentuk untuk membentengi masyarakat (umat Hindu) agar senantiasa bisa hidup harmonis sebagaimana diamanatkan konsep Tri Hita Karana yaitu penyelarasan hubungan antara manusia dengan Tuhan (Ida Sanghyang Widhi), hubungan manusia dengan manusia dan penyelarasan hubungan manusia dengan lingkungannya. Dalam Desa Pakraman diharapkan Umat Hindu dapat hidup harmonis sesuai dengan adat istiadat dan budaya Bali serta mampu membentengi umatnya dari pengaruh budaya luar (Bali) yang tidak sesuai dengan ajaran Hindu. Warisan yang luhur inilah yang telah memberi roh bagi pariwisata Bali. Wisatawan datang ke Bali adalah karena Seni Budaya serta Adat istiadatnya dengan jiwa Agama Hindu yang didukung keindahan alamnya yang masih alami. Menyadari akan hal tersebut  Pemerintah berusaha menjaga kelestarian/eksistensi dari Desa Pakraman. Sebut saja  kegiatan-kegiatan lomba lembaga-lembaga adat   serta festival-festival seni budaya serta pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa Pakraman dengan Lembaga Perkreditan Desa (LPD) maupun Program CBD dll adalah kegiatan-kegiatan yang diadakan dalam rangka melestarikan warisan leluhur kita (orang Bali) yang adiluhung tersebut. Tidak hanya itu saja, Pemerintah juga mengucurkan dana ratusan juta kepada masing-masing Desa Pakraman untuk pemberdayaan Desa Pakraman. Semua itu adalah bertujuan agar Prejuru Desa Pakraman  sebagai pengendali Desa Pakraman focus mengurusi Desa Pakraman dibidang Adat istiadat, Budaya dan Agama Hindu. Memang tidak sedikit permasalahan yang muncul dalam perjalannya, namun hendaknya dicarikan jalan keluar yang lebih bijaksana (bukan bejek sana-bejek sini) dengan tetap berpegang teguh pada adat, budaya dan agama Hindu. Demikianlah idialnya seorang Bendesa  Pekraman dengan tanggungjawabnya  Membina kehidupan masyarakatnya agar sesuai dengan adat dan budaya serta Agama Hindu sehingga dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat Desa Pakraman itu sendiri.
Pertanyaannya sekarang adalah tidak cukupkah perhatian Pemerintah kepada Desa Pakraman sehingga Bendesa Pakraman harus mencari usaha sampingan?
Jawabannya sudah pasti kurang dibandingkan dengan tuntutan    “kebutuhan”      ( dan juga  “keinginan”)  Masyarakat yang kian hari kian kompleks serta ingin serba instan.

Dalam kontek pemberitaan media sebagaimana tersebut diatas,  sepertinya ada sedikit kekeliruan dan perlu pelurusan dari pelaksanaan fungsi  Desa Pekraman. Adalah sangat bijaksana apabila Bendesa Pakraman yang wilayah desanya mempunyai potensi pariwisata lebih berperan dalam hal-hal tertentu saja seperti : menjaga ketentraman dan ketertiban wilayahnya  agar keberadaan kafe-kafe tersebut tidak mengganggu ketentraman dan ketertiban kehidupan masyarakatnya, misalnya   dengan menjadi filter bagi pengunjung maupun pekerja, menjadi pengendali waktu beroperasinya, menyediakan layanan kesehatan dan membantu mencegah terjadinya peredaran barang-barang terlarang psikotropika. Sayangnya  yang terjadi justru sebaliknya. Aparat yang berwenang baik sipil, polri maupun Desa pakraman itu sendiri sering turut larut memanfaatkan dan  menikmati layanan dari apa yang semestinya menjadi pengawasannya  sehingga aparat tidak bisa bertindak tegas dan cendrung kelihatan lebih   bijaksana  ( baca : bejek sana- bejek sini). Masyarakat umumnya sudah tahu sedang  terjadi perselingkuhan antara tikus dengan kucing, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Penertiban yang dilakukan aparat hanyalah sandiwara belaka untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa aparat telah melaksanakan fungsinya meskipun hasilnya tidak memuaskan ( karena  yang ditertibkan sudah tahu rencana yang dilakukan aparat). 
Cilakanya lagi, disadari atau tidak….   ada indikasi pembunuhan karakter  “ Desa Pakraman”  dengan berdalih  O T O N O M I.
Oleh karena itu,…..   Siapapun orangnya……….. dan apapun jabatannya………… mari sadari apa tugas pokok dan fungsi serta kewenangan yang mengiringinya agar tercipta  K E H A R M O N I S A N  .
Pendapat anda bagaimana ?

21 Okt 2011

INDUSTRI MAKANAN DI BALI PERLU SERTIFIKASI “SUKLA”

Bakso Celeng 100% Haram
Bagi sebagian kalangan, industry makanan adalah bidang yang tidak ada matinya. Apalagi sebagai daerah pariwisata dan padat penduduk, kebutuhan makan di Bali sangat besar. Apalagi wisata kuliner mulai digandrungi penduduk domestik. Sayang, masih ada sebagian pelaku industry makanan/kuliner yang belum menerapkan prinsip-prinsip kepatutan dalam pengelolaannya, khususnya dari perspektif tata etika Hindu, baik dalam proses penyediaan bahan makanan hingga proses produksi yang dalam tradisi Hindu di Bali disebut sebagai proses “sukla”.
Untuk itu diperlukan upaya revolusioner untuk memproteksi kesucian badaniah umat Hindu sebagai umat mayoritas di Bali. Pemikiran ini disampaikan Abiseka Raja Majapahit Bali Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan di sela-sela pertemuan penyusunan Blue Print Ekonomi Hindu di Singaraja. Ia menyakini siapa pun yang berinvestasi di Bali, haruslah memahami pola hidup masyarakat Hindu Bali yang sangat menjunjung tinggi kebersihan, tata pengelolaan makanan dan produksi makanan yang sesuai dengan nilai-nilai filosopi Bali.
“Saya menjamin, jika umat Hindu Bali membuat makanan, bisa dipastikan prosesnya sangat bersih (sukla). Dari pengelolaan bahan makanan di dapur hingga di hidangkan. Karena  dari keluarga, orang Bali dididik  untuk menghargai kesucian. Saya harap ada sebuah Lembaga Sertifikasi “Sukla” yang bisa menggerakkan ini. Jangan sampai makanan yang dikonsumsi oleh orang Hindu Bali diproses melalui cara yang tidak benar. Ini akan sangat mempengaruhi kualitas badaniah SDM Hindu. Ingat dalam kitab Weda sangat diyakini bahwa makanan itu sangat berpengaruh pada aktivitas sehari-hari termasuk siapa yang menghidangkan makanan, proses penghidangan dan takaran kesucian,” ungkap Gusti Wedakarna.
Ia mencontohkan, umat Hindu sering mengeluhkan kurang higienisnya proses pembuatan makanan dari produsen yang kebetulan pendatang. “ada kasus penjual bakso mencuci perlengkapan jualannya di kamar mandi karyawan atau mencuci bahan makanan yang akan dijual dari tempat bekas mencuci pakaian. Ini sama sekali membahayakan bagi umat Hindu. Untuk itu saya sarankan agar 90 % umat Hindu di Bali untuk menguasai kembali ekonomi kerakyatan. Jangan  sampai kualitas makanan di Bali ini tidak sesuai estetika,” ungkap Presiden  WHYO ini.
Terkait adanya usaha membentuk merek (franchise) “Bakso Celeng Haram” yang diproduksi Made Andriani (wanita Bali asal  Lampung), pihaknya sangat mengapresiasi dan mendukung. “Usaha karma Bali yang dilakukan oleh Ibu Made ini sangat baik. Ini yang dinamakan Bali Jengah. Saya yakin bakso Haram ini akan maju dan Badan Dana Punia Hindu Nasional (BDPHN) siap memberikan modal untuk  didirikannya cabang diseluruh Bali.
Saya harap umat Hindu membiasakan diri berbelanja di warung yang ada pelangkiran-nya. Kalau ada plangkiran pasti milik umat Hindu dan jika milik umat Hindu pasti prosesnya “Sukla” ungkap Wedakarna yang tidak lama lagi akan meluncurkan lembaga sertifikasi Sukla.

Sumber : Bali Post,Rabu,18 Oktober 2011.,

VIDIO PERADAH JEMBRANA